Tanah Air Beta

Tempoyak Muaro Jambi: Dulu, Kini dan Nanti

Namanya tempoyak. Ini makanan khas hasil fermentasi dari buah durian matang. Daging durian dipisahkan dari bijinya, diberi sedikit garam, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama beberapa hari. Hasilnya: makanan dengan cita rasa asam yang kuat, aroma tajam, dan tekstur kental.

RRayhan Surya Ramadhan|5 Oktober 2026·4 menit baca
Tempoyak Muaro Jambi: Dulu, Kini dan Nanti
Semangkuk Tempoyak Muaro Jambi Foto: Generate by AI

Makanan ini sangat terkenal di Kabupaten Muaro Jambi. Tempoyak bahkan sudah menjadi makanan khas Muaro Jambi. Mereka yang sempat singgah ke tempat itu, sayang kalau melewatkan hidangan tempoyak ini.

Meski bagi sebagian orang bau tempoyak terkesan menyengat, tapi bagi warga jambi, itulah yang justru membuat tempoyak menjadi makanan yang menggugah selera.

Tempoyak biasanya di masak bersama ikan air tawar seperti ikan patin, ikan baung, atau dijadikan bahan sambal yang dicampur dengan cabai, terasi, dan bawang. Rasanya sangat khas dan tidak bisa ditemukan di masakan mana pun.

Tempoyak bukan hanya sekedar sajian di meja makan, tapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Jambi. Tempoyak adalah makanan khas yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

Sejak dulu, ibu-ibu rumah tangga di kampung-kampung Muaro Jambi, sudah terbiasa membuat tempoyak. Mereka tidak hanya membuat untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjualnya ke pasar-pasar tradisional.

Kini, bahkan banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadikan tempoyak sebagai produk unggulan daerah. Tidak sedikit pula generasi muda yang mulai tertarik mempelajari cara membuat tempoyak dan menjadikannya sebagai peluang usaha kuliner lokal.

Tempoyak biasanya dibuat saat musim durian tiba, yaitu sekitar akhir tahun atau awal tahun ketika durian sedang melimpah. Karena durian tidak bisa disimpan terlalu lama dalam bentuk segar, masyarakat pun menyisiatkan dengan mengolahnya menjadi tempoyak agar tidak terbuang sia-sia.

Proses fermentasi membuat durian bisa bertahan lama, bahkan hingga berbulan-bulan jika disimpan dengan baik. Dengan kata lain, tempoyak adalah solusi cerdas dan tradisional masyarakat dahulu dalam mengawetkan makanan- khususnya buah durian.

Kabupaten Muaro Jambi, memang salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang memiliki kekayaan kuliner khas melayu yang masih kuat. Meskipun, selain di Muaro Jambi, tempoyak juga dikenal di beberapa daerah lain di Sumatera seperti Palembang, Bengkulu, atau Lampung.

Meskipun namanya sama, tapi masing-masing daerah biasanya menggunakan pengolahan yang berbeda. Terutama dalam kombinasi bumbu dan cara memasaknya.

Muaro Jambi menjadi tempat utama yang masih mempertahankan tradisi membuat tempoyak secara alami, tanpa bahan pengawet, dan tetap menggunakan cara tradisional seperti yang dilakukan nenek moyang mereka.

Kenapa disebut tempoyak?

Menurut cerita, kata “tempoyak” diyakini berasal dari bahasa Melayu lama yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Sumatera dan Semenanjung. Istilah ini merujuk pada durian yang difermentasi secara alami, yaitu proses alami ketika durian matang disimpan dan mulai berubah rasa menjadi asam.

Penamaan “tempoyak” sendiri tidak memiliki arti leksikal spesifik dalam bahasa Indonesia modern. Tetapi, kata ini telah menjadi istilah turun-temurun di kalangan masyarakat Melayu.

Nama itu juga digunakan karena menggambarkan proses alami perubahan durian menjadi makanan baru yang punya rasa, aroma, dan fungsi berbeda dari durian segar. Secara budaya, nama ini sudah sangat melekat dan tidak pernah berubah hingga saat ini.

Bahkan, di setiap daerah yang mengenal makanan ini, istilah “tempoyak” tetap dipakai dan tidak diganti. Ini menunjukkan kekuatan tradisi dalam penamaan makanan lokal.

Proses pembuatan tempoyak cukup sederhana, tapi butuh ketelatenan. Berikut langkah-langkahnya:

 Pilih durian yang sudah sangat matang.

 Pisahkan daging buah dari bijinya.

 Tambahkan garam secukupnya untuk membantu proses fermentasi.

 Masukkan ke dalam toples bersih atau wadah kedap udara.

 Simpan di suhu ruang selama 3 hingga 7 hari.

Setelah proses ini selesai, tempoyak siap digunakan untuk berbagai olahan makanan, mulai dari gulai tempoyak, sambal tempoyak, hingga pepes tempoyak.

Tempoyak adalah bukti bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal budaya, identitas, dan kreativitas lokal. Makanan ini bukan hanya disukai karena keunikannya, tapi juga karena nilai historis dan emosional yang terkandung di dalamnya.

Bagi masyarakat Muaro Jambi, tempoyak bukan cuma lauk, tapi juga warisan yang harus dijaga dan dilestarikan. Di tengah zaman serba cepat dan instan, tempoyak tetap bertahan sebagai ikon kuliner Jambi.

Dari dapur-dapur sederhana masyarakat desa hingga panggung festival kuliner nasional, tempoyak terus membuktikan bahwa makanan tradisional tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat.(Amelia Wati)