Jangan Neduh Sebelum Gosong
Alarm ponsel Indra Maulana berbunyi pukul empat pagi. Biasanya, di hari kerja, bunyi itu terdengar seperti hukuman. Senin sampai Jumat ia harus berdesakan di kereta, duduk di depan layar komputer, dan membalas berbagai pesan hingga matanya perih. Namun pagi ini hari Sabtu, dan bunyi alarm yang sama terdengar seperti lonceng pembuka pesta. Ia melompat dari kasur lalu memeriksa tas peralatannya sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal: kamera, ponsel, power bank, tripod, kotak umpan, dan joran kesayangan yang ia beli dengan menyisihkan gaji tiga bulan. Di meja, ponselnya menampilkan akun yang baru ia buat dua bulan lalu: in.po.fishing.adv.
Nama itu gabungan dari nama Indra dan sahabatnya, Ponco. Awalnya hanya iseng. Tetapi sejak menonton belasan video konten kreator memancing, Indra yakin satu hal: hobi yang ia cintai ini bisa dibagikan kepada orang lain. Ia tidak ingin berhenti dari pekerjaannya. Ia hanya ingin hari liburnya punya arti lebih dan bermakna.
“Konten itu sampingan, Bro,” katanya kepada Ponco waktu pertama kali mengajak. “Kerja tetap nomor satu. Tapi kalau kita bisa mancing sambil berbagi cerita, kenapa tidak?”
Ponco, yang tubuhnya kecil dan tawanya lebih nyaring, hanya mengacungkan jempol. “Asal aku yang urus umpan dan kamu yang urus kamera. Aku nggak bisa ngomong di depan kamera, nanti kaku kayak patung.”
Matahari belum naik ketika motor mereka berhenti di dermaga kecil. Perahu nelayan langganan mereka sudah menunggu, mesinnya bergetar pelan di tengah udara pagi yang berkabut. Mereka akan menuju bagan bambu di tengah laut, tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan katanya ikannya galak. Satu jam kemudian, bagan itu muncul dari balik kabut tipis: panggung bambu kokoh dengan tiang-tiang menjulang, berdiri sendirian di atas air yang kehijauan. Di kejauhan, deretan bagan lain tampak samar seperti siluet.
“Pemandangannya bagus, Ndra,” kata Ponco sambil menurunkan kotak es. “Ini yang harus kamu tunjukin ke penonton.”
Indra tersenyum dan memasang kamera pada tiang bambu. Jantungnya berdebar, seperti selalu terjadi sebelum ia menekan tombol live. Dua bulan terakhir, siaran langsungnya paling banyak ditonton sebelas orang, dan tiga di antaranya adalah istri, kakak, dan Ponco sendiri.
Ia menarik napas, lalu menekan tombol untuk memulai siaran.
“Halo semuanya, selamat pagi! Kembali lagi bersama saya, Indra, di in.po.fishing.adv. Hari ini saya ditemani sahabat saya, Ponco, dan kita lagi di atas bagan pemancingan Pertamina Teluk Naga, tepatnya di dekat Bagan Bule. Cuacanya agak berkabut, tapi semoga kita mendapatkan ikan yang banyak!”
Di layar, angka penonton menunjukkan: 2.
Indra tertawa kecil. Ponco berbisik, “Nggak apa-apa. Dua orang itu tetap penonton.”
Satu jam pertama berlalu tanpa hasil. Umpan dilempar, ditarik, dilempar lagi. Sinyal sempat putus dua kali, membuat siaran terhenti dan Indra harus mengulang dari awal sambil menahan malu. Seorang penonton menulis di kolom komentar: “Bang, suaranya kecil banget.” Penonton lain: “Kameranya goyang, Bang.”
Indra membaca semuanya dengan hati yang agak ciut. Ia teringat bahwa konten kreator yang ia kagumi pun pasti pernah berada di titik ini: kamera goyang, suara kecil, penonton hanya hitungan jari.
“Kita belajar sambil jalan, Pon,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia memutar tripod, menaikkan sudut kamera, lalu mencoba bicara lebih lantang. “Nah, sekarang bagaimana? Sudah lebih jelas, ya?”
“Lebih enak, Bang!” balas komentar baru. Angka penonton naik menjadi 5.
Matahari mulai meninggi, menembus kabut tipis dan membuat permukaan laut berkilau. Ponco membuka bekal nasi bungkus yang ia bawa dari rumah dan menyodorkan satu untuk Indra. Mereka makan sambil mengobrol, dan tanpa sadar Indra mengarahkan kamera ke obrolan itu: tentang pekerjaan kantor yang melelahkan, tentang mimpi kecil yang ingin mempunyai perahu sendiri suatu hari nanti, tentang betapa laut selalu membuat kepala terasa ringan.
Penonton bertambah lagi. Komentar-komentar hangat mulai masuk. “Seru nonton obrolannya, Bang. Kayak ikut duduk di sana.”
Indra tertegun. Ternyata orang tidak hanya menunggu ikan. Mereka menunggu suasana.
Sekitar pukul sepuluh, ketika langit berubah menjadi putih pucat dan angin laut berhenti berembus, joran Indra tiba-tiba melengkung tajam.
“Pon! Ada yang makan!”
Senar menjerit keluar dari reel. Indra berdiri dengan kedua kaki membuka, otot lengannya menegang. Ikan di ujung sana bukan ikan kecil. Ia menyentak, berputar, lalu menyelam ke bawah bagan seolah ingin melilitkan senar pada tiang bambu.
“Pelan, Ndra, jangan dipaksa! Kasih napas dulu!” teriak Ponco sambil meraih jaring.
Indra mengingat semua video yang pernah ia tonton: jangan melawan tenaga ikan, biarkan ia lelah. Ia mengendurkan drag, menarik saat ikan diam, mengulur saat ikan lari. Di layar ponsel, angka penonton melonjak: 9... 14... 21. Komentar membanjir: “Semangat, Bang! Jangan lepas!”
Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Lalu, dari kedalaman air yang kehijauan, sebuah kilatan perak muncul ke permukaan.
“Ikan bandeng,” ujar Indra kepada Ponco.
Tubuhnya ramping dan pipih, punggungnya kehijauan, sisiknya berkilau seperti logam yang baru digosok. Matanya besar dan bulat, ekornya bercagak, dan ia masih menggelepar gesit sampai detik terakhir. Panjangnya hampir sepanjang lengan Indra.
“Ya ampun, besar banget!” Ponco berteriak sambil menceburkan jaring dan mengangkatnya dengan susah payah. Dengan satu sentakan terakhir, ikan itu mendarat di lantai bambu, menggelepar sebentar, lalu tenang.
Indra terduduk, terengah, tertawa tanpa suara. Tangannya gemetar.
Ia mengangkat ikan itu hati-hati dengan kedua tangan di depan kamera, sementara laut yang luas dan langit berkabut menjadi bingkainya. Peluh di dahinya bercampur dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Teman-teman,” katanya dengan suara serak, “ini dia hasil kesabaran kita pagi ini. Ikan bandeng, kira-kira beratnya satu setengah kilo. Terima kasih sudah menemani dan menyemangati dari tadi. Kalian nggak tahu betapa berartinya ini buat saya.”
Di layar, angka penonton berhenti di 37. Bukan angka yang besar di dunia maya. Tetapi bagi Indra, itu adalah tiga puluh tujuh orang yang meluangkan waktu liburnya untuk ikut menarik senar bersamanya.
Ponco menepuk bahunya. “Tuh kan. Siapa bilang kita nggak bisa?”
Sore harinya, dalam perjalanan pulang di atas perahu, Indra duduk memandangi laut yang berubah keemasan. Ikan tadi sudah masuk kotak es, sebagian akan ia bawa pulang untuk ibunya. Ponselnya masih menyala, dan notifikasi komentar terus berdatangan.
Ia tahu perjalanan ini masih panjang. Besok Minggu ia harus menyunting video. Senin ia kembali bekerja, menghadapi kereta yang penuh sesak dan meja kantor yang penuh tugas. Mungkin penontonnya tidak akan langsung membludak, dan mungkin akan ada banyak sesi siaran yang sepi lagi.
Tetapi untuk pertama kalinya, Indra merasa pekerjaan sehari-harinya dan mimpinya tidak lagi bertentangan. Yang satu menafkahi, yang lain menghidupkan. Dua-duanya bagian dari dirinya.
“Pon,” katanya sambil menatap cakrawala, “Sabtu depan kita ke mana?”
Ponco terkekeh. “Ke mana pun ada air, Ndra.”
Dan di antara deru mesin perahu serta desir ombak, Indra mengetik judul unggahan videonya, judul yang ia yakini akan ditonton lebih dari sebelas orang: “Jangan Neduh Sebelum Gosong.”
