Menara Air Tua Jambi: Perkembangan Kota Sejak Masa Pemerintah Kolonial
JAMBI — Di Jalan Slamet Riyadi, Kota Jambi, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan cerita tentang perkembangan kota sejak masa kolonial Belanda. Bangunan yang dikenal sebagai Menara Air Benteng atau Water Toren ini awalnya berfungsi sebagai bagian dari instalasi penyediaan air bersih. Namun, perjalanan sejarahnya tidak berhenti di situ. Menara tersebut juga menjadi tempat pengibaran bendera Merah Putih pada awal kemerdekaan Indonesia.
Menara Air Benteng terletak di Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi, tidak jauh dari Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Keberadaannya menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan bagaimana fasilitas perkotaan berkembang sekaligus berkaitan dengan peristiwa penting dalam sejarah daerah.
Berawal dari Penyediaan Air Bersih
Pembangunan Menara Air Benteng berlangsung pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi mencatat bahwa bangunan ini dibangun pada periode 1928–1931. Sementara itu, riwayat Perumda Air Minum Tirta Mayang menyebut pelayanan air minum perpipaan di Kota Jambi telah dimulai sejak 1928 melalui perusahaan yang dikenal sebagai Waterleiding Bedrijf.
Pada masa itu, penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan penting bagi kegiatan perkotaan. Instalasi tersebut mendukung pelayanan bagi sejumlah tempat, meskipun jangkauannya belum seluas sekarang.
Dalam laporan ANTARA News Jambi pada 17 Oktober 2020, kapasitas awal instalasi disebut mencapai tujuh liter per detik. Penyaluran air saat itu masih terbatas, antara lain untuk rumah dinas gubernur, rumah potong hewan, dan kantor pemadam kebakaran.
Secara fisik, kompleks ini terdiri atas tiga bangunan. Menara induk berdiri di bagian tengah dengan ketinggian sekitar 24,5 meter, sedangkan dua bangunan pendamping berada di sisi barat dan timur. Bagian utama memiliki tiga lantai dengan ruang penampungan air di bagian atas. Bangunan pendamping digunakan untuk mendukung kegiatan pengelolaan instalasi.
Susunan tersebut memperlihatkan bahwa Menara Air Benteng sejak awal dirancang untuk kebutuhan teknis. Keberadaannya menjadi bagian dari perkembangan fasilitas air bersih di Jambi pada awal abad ke-20.
Menjadi Tempat Pengibaran Merah Putih
Selain berkaitan dengan sejarah penyediaan air, Menara Air Benteng memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia di Jambi.
Pada 19 Agustus 1945, dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, R. Husin Akip dan M. Amin Aini bersama sejumlah pemuda mengibarkan bendera Merah Putih di puncak menara. Peristiwa ini dikenang sebagai salah satu momen penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Jambi.
Setelah kabar kemerdekaan diterima, para pemuda mencari tempat tinggi yang memungkinkan bendera terlihat oleh masyarakat sekitar. Menara Air Benteng kemudian dipilih karena posisinya yang menjulang di kawasan tersebut.
Pengibaran itu menjadi bagian dari upaya masyarakat daerah menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia juga disambut melalui tindakan nyata di luar Jakarta. Peristiwa tersebut membuat bangunan yang sebelumnya dikenal sebagai fasilitas air bersih memiliki makna historis yang lebih luas.
Hingga kini, kisah pengibaran Merah Putih di menara tersebut masih menjadi bagian dari sejarah lokal yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda.
Fungsinya Berubah Seiring Perkembangan Kota
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan pelayanan air minum di Jambi beralih kepada pemerintah daerah. Pada 1974, perusahaan air minum daerah resmi ditetapkan sebagai Perusahaan Daerah Air Minum Kotamadya Jambi, yang kemudian dikenal dengan nama Tirta Mayang.
Seiring bertambahnya penduduk dan meluasnya permukiman, kebutuhan air bersih ikut meningkat. Pemerintah daerah kemudian mengembangkan fasilitas yang mampu mendukung pelayanan dalam skala lebih besar, termasuk instalasi pengolahan air di kawasan Broni.
Dalam perjalanannya, kapasitas instalasi lama pernah ditingkatkan. Namun, kebutuhan masyarakat yang terus bertambah serta perkembangan teknologi pengolahan air membuat sistem yang lebih modern diperlukan untuk mendukung pelayanan.
Setelah instalasi Broni dikembangkan, Menara Air Benteng tidak lagi digunakan sebagai fasilitas utama penyediaan air. Bangunannya kemudian dimanfaatkan untuk keperluan pengelola Perumda Air Minum Tirta Mayang, termasuk penyimpanan barang.
Perubahan fungsi tersebut menandai berakhirnya peran utama menara dalam pelayanan air minum. Meski demikian, bangunan itu tetap menyimpan jejak perkembangan infrastruktur Kota Jambi dari masa kolonial hingga periode setelah kemerdekaan.
Menjaga Peninggalan agar Tetap Dikenal
Menara Air Benteng ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 2 Juli 2023 berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya, sebagaimana dijelaskan dalam publikasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi pada September 2025.
Penetapan ini menjadi langkah penting untuk melindungi bangunan yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur. Perawatan fisik perlu disertai dokumentasi serta penyampaian informasi yang akurat agar masyarakat memahami latar belakang pembangunannya dan peristiwa yang berkaitan dengannya.
Bagi generasi muda, mengenal Menara Air Benteng bisa menjadi cara sederhana untuk mempelajari sejarah daerah. Sebuah bangunan yang tampak biasa dari luar ternyata menyimpan cerita tentang kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, dan perjuangan kemerdekaan.
Menara Air Benteng memperlihatkan bahwa perjalanan Kota Jambi tidak hanya dapat dilihat melalui pembangunan masa kini. Peninggalan yang masih berdiri juga menjadi bagian penting dari identitas daerah. Dengan menjaga keberadaannya, masyarakat turut memastikan bahwa cerita tentang perkembangan kota dan perjuangan para pendahulu tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Penulis: Amelia Wati
