Upacara Kumau di Jambi: Menjaga Tradisi dan Kesuburan Tanah
Di tengah pesatnya modernisasi dan perubahan zaman, masih ada tradisi yang teguh berdiri sebagai penjaga identitas dan kearifan lokal. Salah satunya adalah Upacara Kumau di Jambi, sebuah tradisi pertanian yang telah turun-temurun menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Upacara ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol dari rasa syukur dan harapan akan kesuburan tanah serta keberhasilan panen.
Tradisi Kumau biasanya dilaksanakan setahun sekali, bertepatan dengan datangnya musim hujan, yang menandai dimulainya musim tanam.
Upacara dimulai dengan ‘Ngapak Jambe’, yaitu proses membuka lahan. Petani-petani bergerak bersama-sama membersihkan dan menyiangi lahan, mempersiapkannya untuk ditanami. Ini adalah tahap pertama yang menunjukkan solidaritas dan kerja sama yang kuat di antara anggota masyarakat.
Selanjutnya adalah ‘Nyambau Benih’, di mana benih-benih disiram dan ditaburkan ke tanah yang telah disiapkan. Ini adalah momen yang penuh harapan, di mana setiap butir benih yang jatuh ke tanah diiringi doa dan harapan akan pertumbuhan yang baik. Dan tahap terakhir adalah ‘Pupuh’, yaitu pemberian pupuk pada tanaman.
Di sini, petani tidak hanya memberikan nutrisi fisik bagi tanaman, tetapi juga spiritual melalui mantra dan doa yang dibacakan oleh pemuka adat sebelum pupuh ditanam.
Upacara Kumau adalah wujud nyata dari penghormatan terhadap alam dan leluhur. Melalui upacara ini, masyarakat Jambi menunjukkan penghargaan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa dan arwah para nenek moyang yang telah memberikan tanah yang subur dan kehidupan yang berkelanjutan. Upacara ini juga menjadi sarana untuk meminta keselamatan, perlindungan, dan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai tergerus. Modernisasi pertanian dan perubahan dalam cara berpikir masyarakat telah mengurangi frekuensi pelaksanaan upacara ini.
Meskipun demikian, masih ada harapan untuk melestarikan Upacara Kumau sebagai bagian dari warisan budaya. Pemuda dan pemudi Jambi, bersama dengan para pemangku kepentingan, memiliki peran penting dalam menjaga api tradisi ini tetap menyala.
Upacara Kumau bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang identitas, komunitas, dan keberlanjutan. Ini adalah pelajaran bagi kita semua untuk terus menghargai dan menjaga tradisi yang memberikan makna lebih dalam bagi kehidupan kita. Dengan memahami dan menghormati tradisi seperti Kumau, kita tidak hanya melestarikan sejarah, tetapi juga memperkaya masa depan dengan nilai-nilai yang lestari. (Ririn Ariska Nurlita)
