Tanah Air Beta

Secangkir Susu

Tentang secangkir susu buatan ibu dan pesan tersirat di baliknya

SSyifa Radika Putri Kusuma|8 Oktober 2026·4 menit baca
Sebuah secangkir susu dengan roti kering palmier yang dibuat dalam cat minyak di media kanvas
Glass of Milk and Palmiers Foto: Youqing Wang (Eugene Wang), 2024

TING!—Suara denting yang menggema di dapur terdengar di saat Ibu sibuk membuat secangkir susu. Elana, gadis kecil berusia 8 tahun yang bersinggahmanis di atas kursinya, menatap figur sang Ibu yang tolak balik setiapkali matanya tertuju dari satu sudut ke sudut lain.

“Ibu, kali ini susu rasa apa?” segera setelah gadis kecil itu bertanya, sang ibu melirik cepat.

Ibu menoleh, “Elana selalu suka yang vanilla, kan? Kali ini mau rasa apa?” senyum hangat tersungging jelas di sudut bibirnya yang manis.

Gadis kecil itu menatap heran sang Ibu. Tidak sekali-dua tenggorokan kecilnya yang sensitif merasakan hangatnya rasa manis dari ‘secangkir susu’. Elana menganggukkan kepalanya—tepat ketika segelas susu hangat disodorkan ke arahnya. Larutan putih dengan uap berembun yang mengelilingi gelas itu terlihat begitu sejuk dan menggoda untuk diminum.

Simpul senyum ibu masih tersimpul di sudut bibirnya. Elana berharap untuk bisa terus menikmati senyuman itu di sepanjang hidupnya.

“Diminum ya, Ela. Kalau sudah dingin… Rasanya takkan seenak itu", kata ibu lembut saat melihat putri kecilnya menatap dalam-dalam secangkir susu di depannya.

---

Siang itu langit tampak kelabu, seolah sendu. Elana duduk di ayunan tua yang besinya sudah menimbulkan karat. Bahkan acap mengeluarkan suara derit yang amat mengganggu. Namun begitu, Elana tetap masyuk mengayun-ayunkan kedua kakinya yang terbungkus rapi sepatu.

Suara langkah kaki terdengar di atas daun-daun kering di atas tanah. Hal itu menarik perhatian Elana yang masih bermain ayunan.

“Eh, Rico?” sapa Elana, “Kamu diizinkan bermain oleh orang tuamu? Bukankah seharusnya kamu mengerjakan pekerjaan rumahmu?"

Rico merupakan teman sebaya Elana. Anak yang pendiam namun selalu menyadari hal-hal yang tak biasanya dimiliki oleh anak seumurannya. Ia hanya berdiri beberapa langkah di depan Elana, tangan mungilnya terkepal, matanya menatap kosong ke arahnya. Hal itu membuat Elana mulai resah, ia merasa gundah dengan gerak-gerik Rico yang terlihat kaku. Rico tidak menunjukkan sedikitpun gemetar di cuaca dingin seperti sekarang.

“Elana,” sahut Rico. “Nanti di rumah jangan minum susu buatan Ibumu.”

Elana heran. Sambil mengernyitkan dahinya, ia bertanya, “Kenapa?”

“Jangan.” Ulang Rico, wajahnya terlihat datar namun terdapat urgensi yang bisa ditangkap saat Elana terus memandangnya.

Sunyi. Suasana terasa canggung. Beberapa saat keduanya tidak mengatakan satu kata pun. Posisi keduanya masih sama, namun kini suara kicauan burung di suatu tempat yang jauh di tengah pemukiman desa terdengar. Lalu, pada akhirnya kesunyian itu terpecahkan oleh Elana.

“Rico… Aku baru teringat akan sesuatu.” Lirihnya, Elana menatap Rico dari kepala hingga ujung kaki. Dengan rintih dan gemetar, Elana menambahkan. “…Bukankah kamu sudah tiada?”

Desersi dilakukannya di saat Elana melangkahkan kaki masuk ke rumahnya dan tanpa menoleh sedikitpun. Seharusnya, seperti rutinitas harian—ia akan membantu sang Ibu menyiram tanaman di taman belakang rumah. Pancaran lampu tidur membuatnya menjatuhkan diri di atas kasurnya.

Pikirannya berkelana—berkalut tiada henti setelah perjumpaannya dengan Rico, atau mungkin ruhnya. Mengapa? Apa alasan Rico melarangnya meminum secangkir susu buatan ibunya? Tersadar dari lamunannya akibat suara ketukan pintu yang lembut, Elana beranjak bangun. Gagang pintu di putarnya dan suara terbuka derit kayu mahoni terdengar.

Ibu sedang berdiri di depan kamar. Elana terperanjat, sampai-sampai tubuh mungilnya seketika menegang.

“Kamu baik-baik saja, sayang?” Ibu bertanya dan mendapatkan anggukkan kecil dari putrinya.

Dua pasang matanya membaca gerak-gerik Elana, dengan senyumannya yang khas, sang Ibu membungkukkan tubuhnya sedikit agar mata mereka bertemu.

“Mau minum susu?” Ia bertanya lembut, “Ibu bisa buatkan sekarang.”

Elana menatap lurus mata sang Ibu dan untuk pertama kalinya, ia merasa ragu. Selang beberapa menit kemudian, sang Ibu mengantarkan secangkir susu ke kamar Elana. Meletakkannya di atas nakas berwarna merah muda milik putrinya.

“Ibu tinggal, ya? Dihabiskan susunya.” tanpa menunggu respon putrinya, ia melangkah keluar dan menutup pintu.

Elana menatap ragu cangkir yang berisi larutan putih yang manis dan terlihat hangat itu. Entah mengapa, ia mengikuti larangan ruh Rico saat ia bermain di taman seorang diri beberapa menit lalu. Dengan segenap keberaniannya, Elana berjalan keluar dari bilik tempat peristirahatannya.

Hening. Itulah yang Elana rasakan ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Matanya memindai sekeliling, memastikan sang Ibu tidak ada di area rumah manapun kecuali kamarnya. Yakin bahwa sang Ibu ada di kamar, Elana menyelinap pergi ke taman belakang rumahnya.

Dibukanya pintu geser berlapis kaca itu ke samping, detik di mana dirinya melangkah keluar, ia melihat sang Ibu sibuk menaburkan kelopak bunga di salah satu timbunan tanah di sudut taman. Elana diam membeku, sekujur tubuhnya seperti diikat oleh tali tak kasat mata saat matanya melihat frame foto di atas timbunan tanah itu.

Itu foto Rico! temannya yang membuatnya ketakutan setengah mati. Merasakan kehadiran seseorang, sang Ibu menolehkan kepalanya perlahan. Melihat Elana, sudut bibirnya membuat sunggingan kecil.

“Elana? Kenapa ada di sini? Sudah diminum susunya?”

Elana tidak menjawab. Namun, untuk pertama kalinya ia melihat senyuman yang mengerikan dari sang Ibu.

“Rico tertidur nyenyak. Sejak beberapa hari lalu ia datang ke rumah kita… Ia juga minum susu buatan Ibu.” timpal sang Ibu, “Kali ini…Elana akan menemaninya.” langit