Tanah Air Beta

Pendakian Gunung Gede Pangrango: Saat Sebuah Perjalanan Melahirkan Pelajaran

Ada kalanya sebuah perjalanan tidak berakhir seperti yang kita rencanakan

kkevlin wiryadijaya|8 Oktober 2026·4 menit baca
Pendakian Gunung Gede Pangrango: Saat Sebuah Perjalanan Melahirkan Pelajaran
Gapura Gunung Gede Foto: re-edit by AI

Apa yang awalnya hanya ingin menjadi sebuah petualangan dan kenangan indah bersama teman, justru berubah menjadi pengalaman yang mengajarkan arti kepedulian, keberanian, dan pentingnya menjaga satu sama lain.

Semua itu bermula ketika saya dan tiga orang teman berencana mendaki Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat.

Sejak jauh-jauh hari, kami mulai membicarakan rencana pendakian. Kami membahas jalur yang akan dilewati, perlengkapan yang harus dibawa, makanan, pakaian, hingga berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi selama berada di gunung.

Seminggu sebelum keberangkatan, kami kembali berkumpul. Kali ini pembicaraannya lebih serius. Kami mulai memeriksa satu per satu perlengkapan dan perbekalan. Tas, tenda, sleeping bag , makanan, air minum, obat-obatan, hingga perlengkapan darurat kami persiapkan.

Kami sadar bahwa mendaki gunung bukan sekadar persoalan mencapai puncak. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan karena gunung selalu memiliki cara sendiri untuk menguji manusia yang datang kepadanya.

Hari yang kami tunggu akhirnya tiba.

Senin, 25 November 2024. Saya bersama tiga orang teman berangkat dari Tangerang Selatan menuju Jawa Barat. Perjalanan kami tempuh dengan penuh semangat. Sesekali kami bercanda dan membicarakan seperti apa pemandangan yang akan kami lihat dari atas Gunung Gede.

Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di kawasan pendakian. Setelah sampai, kami kembali memeriksa perlengkapan dan logistik. Kami juga menyelesaikan proses pendaftaran pendakian melalui SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) terdekat.

Malam itu kami beristirahat sambil mempersiapkan tenaga. Beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 05.00 WIB pada, bertepatan pada 26 November 2024, perjalanan menuju puncak akhirnya dimulai.

Langkah demi langkah kami lewati. Udara semakin dingin, jalan semakin menanjak, dan napas mulai terasa berat. Namun semangat untuk mencapai puncak membuat kami terus berjalan.

Saya akhirnya berhenti dan beristirahat di Pos 3 sekitar pukul 13.45 WIB. Setelah cukup memulihkan tenaga, sekitar pukul 14.30 WIB saya kembali melanjutkan perjalanan bersama teman-teman.

Menjelang sore, perjalanan kami mulai mendekati tujuan.

Sekitar pukul 17.40 WIB, kami akhirnya tiba di pos Suryakencana, salah satu kawasan yang menjadi tujuan penting dalam pendakian Gunung Gede.

Rasa lelah seolah terbayar ketika melihat hamparan luas Suryakencana. Namun kami tidak boleh terlalu larut dalam rasa senang. Hari mulai gelap. Kami segera mendirikan tenda dan menyiapkan tempat untuk beristirahat.

Malam semakin larut.

Di dalam tenda, kami mencoba menghangatkan tubuh sambil berbincang ringan. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa saat kemudian suasana akan berubah menjadi tegang.

Salah seorang teman saya tiba-tiba mengeluh pusing dan mual. Tubuhnya mulai menggigil hebat. Awalnya kami mengira ia hanya kelelahan setelah perjalanan panjang.

Namun kondisinya semakin mengkhawatirkan!

Saya mencoba mengingat kembali pengetahuan dasar mengenai kondisi darurat di gunung yang pernah saya pelajari. Dari gejala yang terlihat, saya mencurigai teman saya mengalami hipotermia.

Saya segera mengambil emergency blanket dan menyelimuti tubuhnya. Setelah itu, kami memasukkannya ke dalam sleeping bag yang cukup tebal agar suhu tubuhnya tetap terjaga.

Teman yang lain segera memasakkan air panas. Kami berusaha melakukan apa pun yang kami bisa untuk membantu mengurangi rasa dingin yang dirasakannya.

Waktu terus berjalan.

Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB, tetapi kondisi teman saya belum juga membaik. Rasa khawatir mulai memenuhi tenda. Kami sadar bahwa kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sepele.

Akhirnya, kami mengambil keputusan.

Kami menghubungi pihak basecamp untuk meminta bantuan.

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 02.45 WIB, tim dari basecamp tiba di lokasi. Teman saya kemudian dievakuasi menggunakan tandu untuk dibawa turun menuju basecamp .

Melihat teman sendiri harus ditandu turun dalam kondisi seperti itu membuat hati saya terasa berat.

Kami pun segera membereskan perlengkapan. Rencana untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede akhirnya urung kami teruskan.

Salah seorang teman sempat merasa kesal. Ia kecewa karena perjalanan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari harus berhenti sebelum mencapai puncak.

Saya memahami kekecewaannya. Namun pada saat itu, nyawa seseorang jauh lebih penting daripada sekadar mencapai puncak.

Saya akhirnya menegurnya dengan keras.

“Puncak bisa didaki lain kali. Tapi kalau teman kita kenapa-kenapa, apa kita mau menyesal seumur hidup?”

Ia terdiam.

Akhirnya, kami semua memutuskan untuk ikut turun bersama menuju basecamp .

Perjalanan turun malam itu terasa berbeda. Tidak ada lagi canda seperti ketika kami berangkat. Yang ada di pikiran kami hanya satu: memastikan teman kami mendapatkan pertolongan secepat mungkin.

Sesampainya di basecamp , teman kami kemudian mendapatkan penanganan medis dari dokter.

Saat melihat kondisinya mulai tertangani, perlahan rasa lega muncul di dalam hati saya.

Satu hal yang saya pelajari: mendaki gunung ternyata bukan hanya tentang siapa yang berhasil mencapai puncak; bukan pula tentang seberapa tinggi kita mampu melangkah.

Pada akhirnya, pendakian adalah sarana pelajaran tentang bagaimana kita seharusnya saling menjaga satu sama lain. Puncak hanyalah tujuan. Teman yang pulang bersama kitalah yang menjadi kemenangan sebenarnya.