Makam Kerkhof Jambi: Jejak Kolonial yang Masih Tersimpan di Tengah Permukiman
JAMBI — Di tengah perkembangan Kota Jambi, masih terdapat peninggalan sejarah yang menyimpan cerita tentang kehidupan pada masa kolonial Belanda. Salah satunya adalah Makam Kerkhof, kompleks pemakaman tua yang berada di kawasan Kelurahan Beringin, Kecamatan Pasar Jambi. Keberadaannya menjadi bukti bahwa perjalanan sejarah kota ini tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan kerajaan, tetapi juga dengan pergantian kekuasaan yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
Makam Kerkhof atau yang dikenal sebagai Makam Belanda menyimpan jejak kehidupan masyarakat dari masa lampau. Melalui bentuk nisan, ornamen, serta tulisan yang terdapat pada sejumlah makam, peninggalan ini dapat digunakan untuk memahami kehidupan sosial masyarakat yang pernah tinggal di Jambi pada masa kolonial.
Berawal dari Masa Kolonial Belanda Hubungan Belanda dengan Jambi pada awalnya berkaitan dengan kepentingan perdagangan. Seiring waktu, pengaruh tersebut berkembang hingga memasuki bidang politik dan pemerintahan. Perubahan ini semakin terlihat pada awal abad ke-20, ketika kekuasaan Kesultanan Jambi berakhir pada tahun 1904 dan pemerintahan kolonial Belanda semakin memperkuat kedudukannya di wilayah tersebut.
Dalam catatan Database Kepariwisataan Provinsi Jambi tahun 2019, Makam Kerkhof dikaitkan dengan periode kolonial Belanda sekitar tahun 1833–1945. Rentang waktu itu menggambarkan konteks sejarah yang berkaitan dengan situs tersebut, bukan berarti semua makam di dalamnya berasal dari tahun yang sama.
Kehadiran kompleks pemakaman ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat kolonial turut meninggalkan jejak di lingkungan perkotaan Jambi. Makam menjadi salah satu bentuk peninggalan yang dapat membantu peneliti menelusuri identitas, latar belakang, dan perjalanan hidup orang-orang yang pernah tinggal di wilayah tersebut.
Menyimpan Beragam Jejak Kehidupan Makam Kerkhof tidak hanya dikaitkan dengan orang Belanda dan keturunannya. Artikel Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi berjudul "Tinggalan Masa Kolonialisasi Belanda: Makam Elisabeth Victoria Clementine", yang diterbitkan pada November 2025, juga membahas keberadaan makam yang berkaitan dengan kelompok masyarakat lain, termasuk warga Jepang dan masyarakat lokal.
Salah satu makam yang terdokumentasi adalah makam Elisabeth Victoria Clementine dari tahun 1918. Keberadaan nisan dengan identitas dan penanggalan tersebut menjadi petunjuk sejarah yang dapat ditelusuri lebih lanjut melalui arsip maupun penelitian arkeologi.
Kajian mengenai kompleks ini juga dilakukan oleh Elia Langgeng Kurnia dari Universitas Jambi melalui penelitian berjudul "Tipologi Makam Belanda (Kerkhof) Kota Jambi" pada 2022. Penelitian tersebut membahas bentuk dan ornamen makam yang dapat dikaji sebagai sumber arkeologi.
Dari sudut pandang sejarah, nisan bukan sekadar penanda tempat pemakaman. Bentuk, bahan, ukiran, dan tulisan yang tertera di atasnya dapat memberikan informasi mengenai kebiasaan serta latar belakang masyarakat pada masa tertentu. Jika dibandingkan dengan sumber tertulis lainnya, peninggalan fisik tersebut dapat membantu menyusun gambaran kehidupan masyarakat Jambi pada masa kolonial.
Jejak Masa Lalu di Tengah Perkembangan Kota Seiring perkembangan Kota Jambi, kawasan di sekitar Makam Kerkhof menjadi bagian dari lingkungan perkotaan yang digunakan untuk berbagai aktivitas masyarakat. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah tidak selalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi dapat bertahan di tengah permukiman dan bangunan modern.
Dokumentasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi pada November 2025 mengenai makam Elisabeth Victoria Clementine menyebutkan bahwa lingkungan makam berbatasan langsung dengan rumah warga, Taman Makalam, dan Jalan M.H. Thamrin. Dokumentasi yang sama juga mencatat adanya lumut dan rumput liar di sekitar makam, sementara sebagian warna bahan bangunan mulai memudar akibat pengaruh cuaca.
Informasi tersebut menunjukkan pentingnya perawatan secara berkelanjutan. Usia bangunan, perubahan cuaca, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi ketahanan material dan keterbacaan tulisan pada nisan. Tanpa pendataan dan pemeliharaan yang memadai, sebagian informasi sejarah berisiko semakin sulit dikenali.
Dalam dokumen Tim Ahli Cagar Budaya Kota Jambi tahun 2024, makam Elisabeth Victoria Clementine tercatat mendapat rekomendasi untuk menjadi struktur cagar budaya. Rekomendasi tersebut perlu dibedakan dari penetapan resmi, sehingga status hukumnya harus tetap merujuk pada keputusan pemerintah yang berlaku.
Menjaga Warisan Sejarah Jambi Makam Kerkhof memiliki nilai penting sebagai sumber untuk mempelajari sejarah kolonial dan perkembangan Kota Jambi. Keberadaannya membuka kesempatan bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat untuk mengenal masa lalu melalui peninggalan yang masih dapat dikaji.
Basi generasi muda, terutama mahasiswa sejarah, situs seperti ini memperlihatkan bahwa penelitian tidak hanya bertumpu pada buku dan dokumen. Peninggalan fisik juga dapat menjadi sumber pengetahuan, selama kajiannya dilakukan secara cermat dan didukung bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.
