Tanah Air Beta

Puisi Kubah Surga

Refleksi puitis tentang manusia yang mengejar akhirat fana di balik tirai kegelapan dunia.

Roarr Jazz Mine|8 Oktober 2026·1 menit baca
Lukisan ilustrasi klasik karya Adolf Münzer menampilkan sesosok malaikat bersayap putih besar dengan gaun putih panjang bertabur bintang emas. Malaikat tersebut tampak dituntun menggunakan rantai emas oleh seorang pria berjas hitam dan bertopi tinggi di sebelah kiri yang memunggungi kerumunan.
"Der Weihnachtsengel" karya Adolf Münzer (1906). Menatap langit hampa dan jiwa-jiwa yang berjalan dalam gulita, mencari akhirat yang fana di balik tirai kegelapan. Foto: Der Weihnachtsengel by Adolf Münzer

Dewi-dewi membentang mega,

dari mendung kelabu hingga awan yang dahaga. Kehidupan bermula dari setitik asa di kubah langit, tempat segala suara terpaku, memohon air pengusir sakit.

Senja berbisik lirih pada malam yang datang, akankah kegelapan merenggut sisa indah yang terbentang, ataukah semesta sendiri yang akan membinasakan kita?

Aku menatap langit hampa, bertanya dalam gulita, akankah jagat raya ini sirna tanpa sisa cahaya?

Ataukah aku yang 'kan ditelan bulat-bulat oleh kuasa? Semua tampak tenang dari balik tirai kegelapan, saat kunanti daun musim gugur membawa tulusnya harapan.

Kubah Surga, ataukah Cela Surga?

Mengapa mereka berlari mengejar akhirat yang fana? Memuja kesenangan yang tak pasti rupa, ketika hakikatnya pun tak mereka raba.

Segala keindahan di langit tinggi, tak punya kuasa melawan jiwa yang serakah benci.

Bahkan saat mereka mulai ragu, pada sudut pandang yang mereka yakini tabu.