Puisi Kubah Surga
Refleksi puitis tentang manusia yang mengejar akhirat fana di balik tirai kegelapan dunia.
Dewi-dewi membentang mega,
dari mendung kelabu hingga awan yang dahaga. Kehidupan bermula dari setitik asa di kubah langit, tempat segala suara terpaku, memohon air pengusir sakit.
Senja berbisik lirih pada malam yang datang, akankah kegelapan merenggut sisa indah yang terbentang, ataukah semesta sendiri yang akan membinasakan kita?
Aku menatap langit hampa, bertanya dalam gulita, akankah jagat raya ini sirna tanpa sisa cahaya?
Ataukah aku yang 'kan ditelan bulat-bulat oleh kuasa? Semua tampak tenang dari balik tirai kegelapan, saat kunanti daun musim gugur membawa tulusnya harapan.
Kubah Surga, ataukah Cela Surga?
Mengapa mereka berlari mengejar akhirat yang fana? Memuja kesenangan yang tak pasti rupa, ketika hakikatnya pun tak mereka raba.
Segala keindahan di langit tinggi, tak punya kuasa melawan jiwa yang serakah benci.
Bahkan saat mereka mulai ragu, pada sudut pandang yang mereka yakini tabu.
