Tanah Air Beta

Krakatau: Gunung yang Pernah Mengguncang Dunia

Indonesia berdiri di atas lempeng bumi yang selalu bergerak. Wilayahnya tidak hanya indah, pun tanahnya tidak hanya subur, tetapi juga rawan bencana sebab Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif, salah satunya Krakatau.

Emqi Ainul Chotib|29 September 2026·5 menit baca
Ilustrasi Gunnung Krakatau
Krakatau: Gunung yang Pernah Mengguncang Dunia Foto: Gemini AI

Bayangkan sebuah suara yang begitu kerasnya hingga terdengar sampai Rodrigues, pulau kecil di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 4.800 kilometer dari Selat Sunda. Bayangkan langit yang berubah gelap di siang hari, tsunami setinggi puluhan meter menghantam pesisir, dan abu vulkanik yang naik ke stratosfer lalu menutupi sebagian sinar matahari. Itulah yang terjadi kala Krakatau meledak pada 26–27 Agustus 1883.

Letusan itu menjadi salah satu letusan terbesar dalam sejarah modern, mengguncang dunia, dan mengubah cara orang memahami kekuatan gunung api. Namun jauh sebelum ledakan dahsyat itu, Krakatau sudah menjadi bagian dari sistem gunung api paling aktif di dunia.

Indonesia: Negeri di Atas Cincin Api

Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif, salah satu jumlah terbanyak di dunia. Gunung-gunung itu membentuk semacam poros busur kepulauan yang terbentuk akibat Lempeng Indo-Australia yang menhunjam Lempeng Eurasia. Sebagian besar gunung api ini berada di sepanjang dua pulau terbesar, yaitu Jawa dan Sumatra.

Kedua pulau itu dipisahkan oleh Selat Sunda. Di selat inilah Krakatau berada. Letaknya tepat di zona pertemuan dua lempeng besar, tempat batas lempeng berubah arah secara tajam. Kondisi ini membuat kerak bumi di kawasan tersebut relatif lemah dan mudah retak. Tidak heran jika Selat Sunda menjadi salah satu kawasan vulkanik paling dinamis—dan paling berbahaya—di Indonesia.

Bukan Satu Gunung, tapi Gugusan Pulau Vulkanik

Krakatau sering dibayangkan sebagai satu gunung besar. Padahal, ia adalah gugusan pulau vulkanik. Sebelum letusan 1883, Krakatau terdiri dari beberapa puncak, di antaranya Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Setelah letusan besar terjadi, Danan dan Perbuwatan hancur, meninggalkan kaldera luas. Rakata masih bertahan hingga sekarang.

Nama “Krakatau” sendiri punya sejarah panjang. Awalnya, kawasan ini dikenal sebagai Gunung Rakata dalam tradisi Sunda Kuno. Ketika bangsa Barat mulai masuk ke Nusantara, nama itu muncul dalam berbagai ejaan, seperti “Pulo Carcata”, “Crackatouw”, “Cracatoa”, dan “Krakatao”. Kata “pulo” berasal dari bahasa Sunda yang berarti pulau. Jadi, sejak dulu Krakatau sudah dikenal sebagai kawasan pulau vulkanik yang mencuri perhatian.

Aktivitas Krakatau juga tercatat jauh sebelum 1883. Ada catatan kuno dari tahun 416 yang sering dikaitkan dengan letusan Krakatau. Namun, banyak ahli masih meragukan catatan itu karena bukti geologisnya tidak cukup kuat. Yang jelas, Krakatau sudah lama aktif, dan letusan-letusan kecil maupun besar terus terjadi dari waktu ke waktu.

1883: Hari Ketika Langit Gelap

Puncak sejarah Krakatau terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Letusan itu berkekuatan luar biasa, diperkirakan berada di skala VEI 6. Suaranya terdengar hingga ribuan kilometer. Gelombang tekanannya bahkan terekam oleh alat pengukur tekanan udara di berbagai belahan dunia. Abu vulkaniknya menyembur ke stratosfer, menutupi sebagian sinar matahari, dan menurunkan suhu global sekitar 0,5 derajat Celsius selama setahun.

Tsunami yang ditimbulkan tidak kalah mengerikan. Gelombang setinggi puluhan meter menghantam pesisir Selat Sunda, menewaskan lebih dari 36.000 orang. Kota-kota pesisir hancur. Kapal-kapal terlempar. Selama berbulan-bulan setelahnya, langit dunia menjadi merah dan oranye karena partikel abu yang masih melayang di atmosfer. Matahari terbenam di Eropa dan Amerika tampak luar biasa indah, tetapi di balik keindahan itu ada bencana besar yang baru saja terjadi di Nusantara.

Letusan 1883 mengubah peta Krakatau. Sebagian besar pulau itu hancur dan hilang. Yang tersisa adalah kaldera luas dan beberapa pulau kecil, termasuk Rakata, Sertung, dan Panjang. Dunia menyaksikan bagaimana sebuah gunung bisa menghapus dirinya sendiri dalam hitungan jam.

Anak Krakatau: Lahir dari Reruntuhan

Krakatau tidak benar-benar mati. Beberapa dekade setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul dari dalam kaldera. Pada 1927, sebuah kerucut gunung api baru mulai muncul dari permukaan laut. Awalnya ia beberapa kali hilang tertelan ombak, tetapi pada 1930 ia muncul kembali dan bertahan. Gunung kecil itu diberi nama Anak Krakatau.

Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh. Ia menjadi salah satu gunung api paling dipantau di Indonesia. Letusan-letusan kecil sering terjadi, kadang menyemburkan abu dan lava, kadang hanya menunjukkan aktivitas uap. Bagi para ilmuwan, Anak Krakatau adalah laboratorium alam untuk memahami bagaimana gunung api baru lahir dari sisa-sisa letusan besar.

2018: Peringatan dari Laut

Pada 22 Desember 2018, Anak Krakatau kembali menunjukkan kekuatannya. Erupsi yang terjadi menyebabkan sebagian sisi barat daya gunung longsor ke laut. Longsoran itu memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Gelombang datang tanpa peringatan dini yang jelas, menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ribuan lainnya.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa bahaya Krakatau tidak hanya datang dari letusan yang spektakuler. Longsoran flank, yaitu runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut, bisa menghasilkan tsunami yang sangat berbahaya. Setelah peristiwa itu, ketinggian Anak Krakatau menyusut drastis, tetapi gunung itu perlahan tumbuh lagi. Krakatau memang tidak pernah benar-benar tidur.

Mengapa Krakatau Tetap Penting?

Krakatau adalah pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas lempeng bumi yang terus bergerak. Kita hidup di wilayah yang indah, subur, tetapi juga rawan bencana. Letusan Krakatau 1883 mengajarkan pentingnya mitigasi, pemantauan gunung api, dan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

Hingga hari ini, Krakatau dan Anak Krakatau terus dipantau oleh para ahli. Setiap gempa vulkanik, setiap kepulan asap, setiap perubahan bentuk gunung dicatat dengan teliti. Sebab, sejarah Krakatau bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah peringatan tentang masa depan—bahwa alam selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kekuatannya.

Krakatau mungkin hanya sebuah nama di peta Selat Sunda. Tetapi di baliknya, ada kisah tentang ledakan yang mengguncang dunia, tentang kehidupan yang tumbuh dari reruntuhan, dan tentang manusia yang belajar hidup berdampingan dengan gunung api.

*Ditulis oleh: Mikail Muhammad Imam Muda (mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta)