Tanah Air Beta

Ketika Doa Menjadi Air di Tengah Dahaga

Ketika diri berbisik ke bumi, namun suaranya terdengar sampai langit.

kezia ardita|14 Oktober 2026·2 menit baca
ilustrasi sholat istisqo di alun-alun tegar beriman
ilustrasi sholat istisqo Foto: generate by AI

Di tengah kemarau panjang sejak Juni 2026 yang membuat sumur mengering dan lahan pertanian terancam, ribuan warga Bogor tidak memilih untuk mengeluh.

Pada Jumat, 18 September 2026, Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama ribuan masyarakat, ulama, dan jajaran Pemkab berkumpul di Alun-Alun Tegar Beriman, Cibinong, untuk melaksanakan Shalat Istisqa. Dengan khidmat mereka menundukkan kepala, memohon ampunan dan rahmat Allah SWT agar diturunkan hujan yang bermanfaat.

Shalat ini digelar bukan tanpa alasan. Selain ikhtiar lahir seperti penyaluran bantuan air bersih dan koordinasi dengan instansi termasuk BNPB untuk hujan buatan yang belum berhasil, Pemkab Bogor menyadari bahwa ikhtiar batin adalah kekuatan yang tak kalah penting. Kemarau yang berkepanjangan telah berdampak nyata pada ketersediaan air dan kehidupan petani, sehingga doa bersama menjadi bentuk kepasrahan sekaligus kekuatan kolektif.

Momentum ini menjadi lebih dari sekadar ritual memohon hujan. Ia adalah pelajaran tentang kebersamaan antara pemimpin dan rakyat, tentang ketakwaan dan kepedulian sosial di saat sulit. Ketika semua usaha teknis terasa buntu, merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta adalah pengingat bahwa manusia punya batas, dan rahmat Tuhan adalah harapan terbesar.

Dan harapan itu terjawab. Di sore hari yang sama setelah doa dipanjatkan bersama, hujan turun di sejumlah wilayah Bogor membawa kesejukan. Sebuah bukti indah bahwa ketika ribuan hati memohon dalam satu suara, langit pun menjawab dengan keberkahan.