Tanah Air Beta

Di Desa Kebun Sayur Jambi, Ada Tradisi Balikkan Makanan Untuk Menjaga Komunikasi dengan Tetangga

Menjelang bulan suci, warga Desa Kebon Sayur Jambi punya cara sederhana untuk kembali mendekatkan hati: saling mengantarkan makanan kepada tetangga. Tradisi balikkan makanan bukan sekadar berbagi hidangan, tetapi menjadi ruang untuk menjaga komunikasi, mempererat kebersamaan, dan mengingatkan bahwa kehidupan bertetangga memiliki arti penting.

bbina aulia|5 Oktober 2026·2 menit baca
Di Desa Kebun Sayur Jambi, Ada Tradisi Balikkan Makanan Untuk Menjaga Komunikasi dengan Tetangga
Tradisi Balikkan Makanan di Desa Kebun Sayur Jambi Foto: Generate by AI

Hampir seluruh warga desa, dari orang tua, anak-anak, hingga remaja terlibat dalam tradisi ini. Bahkan, warga yang kesulitan ekonomi tetap mendapat bagian. Tradisi ini tidak melihat siapa yang mampu atau tidak. Semua diperlakukan setara.

Anak-anak muda dilibatkan. Mereka membantu memasak dan mengantarkan makanan ke rumah-rumah. Warga mempersiapkan makanan dari pagi hingga sore, dan mulai mengantarkan makanan menjelang waktu maghrib.

Pak Sumanto, salah satu warga setempat, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak ia kecil. “Orang tua kami dulu ngajarin, menjelang puasa itu jangan cuma siapin diri buat nahan lapar, tapi juga buat nahan ego. Makanya kita saling berbagi, biar hati kita lapang,” ucapnya.

Tradisi ini menjadi cara warga mempererat hubungan sosial dan membersihkan hati sebelum bulan suci. Setiap keluarga memasak makanan khas rumahan, lalu membungkusnya rapi dalam wadah, dan langsung mengantarnya ke tetangga.

Tidak ada aturan siapa harus memberi ke siapa. Semua berjalan alami. Bahkan ada yang menyisipkan doa dalam bungkusan makanan. Tradisi ini juga membuat warga yang biasanya sibuk sendiri jadi saling sapa, ngobrol lagi, dan merasakan kembali arti hidup bertetangga.Kehidupan di Desa Kebon Sayur, saat ini memang sudah mulai bersentuhan dengan dunia modern. Internet mulai masuk, anak-anak muda mulai akrab dengan media sosial, dan aktivitas warga pun makin beragam.

Namun, di tengah kemajuan itu, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tak harus mengorbankan akar budaya.

Bagi saya, tradisi balikkan makanan bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah komunikasi sosial yang kuat. Tanpa banyak kata, warga saling memberi tanda bahwa mereka masih peduli satu sama lain.

Inilah kekuatan yang tetap dijaga di Desa Kebon Sayur: menjaga empati, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menjalani kehidupan yang berdampingan dengan perubahan zaman. (Amelia Wati)