Dari Alang-Alang Hingga Jadi Warisan, Kisah Kampung Budaya Sunda Paseban Bogor
Pada mulanya ia sehamparan lahan yang terlelap. Kemudian ia terbangun beralaskan kepedulian atas warisan leluhur yang ditinggalkan.
Jika kamu masuk ke Paseban, Megamendung, Bogor, kamu tidak akan menyangka tempat asri yang penuh bambu dan saung-saung Sunda ini dulunya hanya hamparan alang-alang yang tidak terurus.
Tidak ada yang menyangka, dari lahan tidur itulah lahir sebuah mimpi besar.
Dulu, Paseban hanyalah tanah kosong. Tapi di tangan para penggerak budaya, lahan itu dilihat bukan sebagai akhir, tapi sebagai awal.
Mereka tidak membangun mall. Tidak membangun villa. Mereka memilih membangun ingatan.
Satu per satu, 41 jenis bambu ditanam. Pohon langka seperti Baobab, Bodhi, dan Pule dibawa pulang. Rumah-rumah adat Sunda yang hampir punah, direkonstruksi kembali. Dari yang semula hanya ilalang, kini Paseban terlihat lebih bernapas.
"Kami ingin anak cucu kami tahu, Sunda itu tidak hanya soal bahasa, tapi soal cara hidup yang selaras dengan alam," kata salah satu pendiri kampung.
Kini, Kampung Budaya Sunda Paseban bukan sekadar tempat wisata. Di sinilah Museum Kujang Pusaka pertama berdiri—museum yang menyimpan ratusan kujang, senjata sekaligus simbol identitas Sunda. Jika Solo terdapat Museum Keris, maka di Bogor ada Museum Kujang.
Setiap sudut Kampung Paseban adalah kelas. Di sana orang-orang bisa belajar menempa kujang langsung, belajar membuat angklung dari bambu yang hasil menanam sendiri, hingga belajar silat dan tarian Sunda dari warga sekitar.
Yang paling inspiratif, kampung ini hidup dari prinsip keberlanjutan: peduli akan keberlangsungan alam. Bambu yang ditanam tidak hanya untuk penghijauan, tetapi juga menjadi bahan baku kesenian. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut 1 hektar bambu bisa menyerap 1,7 ton karbon per tahun. Walhasil, alam dijaga, budaya selingkung lestari, ekonomi warga turut terangkat.
Kampung Budaya Sunda Paseban kini beralih rupa menjadi kampung yang menghidupkan, tidak hanya masyarakat, melainkan juga alam dan kebudayaan Sunda.
