Tanah Air Beta

Candi Muaro Jambi: Warisan Peradaban Asia yang Hampir Terlupakan

Pagi belum sepenuhnya terang ketika kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Batanghari. Udara terasa lembab, membawa aroma tanah basah bercampur daun-daun tua yang luruh diam-diam di antara rerumputan. Di sini, di Muaro Jambi, waktu seperti berjalan lebih lambat.

Emqi Ainul Chotib|5 Oktober 2026·6 menit baca
Candi Muaro Jambi tampak atas
Candi Muaro Jambi Foto: generate by AI

Bata-bata merah yang tersusun kokoh itu berdiri tanpa banyak bicara hanya diam, seolah menyimpan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan. Angin sesekali berembus, menggerakkan dedaunan, dan untuk sesaat kamu merasa bukan sekadar berdiri di depan reruntuhan tapi merasa sedang ditatap balik oleh sejarah.

Kompleks percandian Muaro Jambi diperkirakan dibangun antara abad ke-7 hingga ke-14 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Membentang sepanjang tepian Sungai Batanghari seluas 3.981 hektar, kawasan ini bukan sekadar kumpulan bata tua ia adalah kota peradaban yang pernah berdenyut penuh kehidupan. Luasnya bahkan dua puluh kali lipat Candi Borobudur.

Dari 110 candi yang teridentifikasi, sebagian besar masih tertidur dalam bentuk gundukan tanah yang disebut menapo. Yang lebih mengejutkan, universitas-universitas besar Eropa seperti Bologna baru berdiri pada 1088 Masehi sementara Muaro Jambi sudah lebih dulu menjadi pusat ilmu berabad-abad sebelumnya (Muaro et al., n.d.).

Pusat Keilmuan

Muaro Jambi bukan sekadar tempat bersembahyang. Ia adalah kampus dalam arti yang sesungguhnya. Pada abad ke-7, seorang biksu Tiongkok bernama I-Tsing berlayar dari negerinya menuju India untuk mendalami ajaran Buddha.

Dalam perjalanan itu, ia singgah di kawasan Melayu Jambi dan tinggal selama beberapa waktu. Apa yang ia temukan membuatnya kagum.

Dalam catatannya, I-Tsing menyebut kawasan ini sebagai pusat pembelajaran yang setara dengan Universitas Nalanda di India salah satu universitas tertua dan paling bergengsi di dunia kuno.

Para pelajar dari India, Tiongkok, hingga Tibet datang bukan untuk wisata, melainkan untuk belajar. Di sinilah diajarkan Panca Widya lima cabang ilmu pengetahuan: tata bahasa, ilmu pengobatan, logika, seni dan kerajinan, serta pengelolaan batin atau kejiwaan. Sebuah kurikulum yang, bila kita renungkan, tidak jauh berbeda dari konsep pendidikan holistik yang kita impikan hari ini.

Muaro Jambi adalah bukti bahwa Nusantara pernah punya tradisi intelektual yang diakui dunia jauh sebelum kita mengenal kata “universitas” dari bahasa asing (Nasrullah et al., 2024).

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menutup mata pada kearifan peradaban lain. Sebuah hadis yang masyhur berbunyi: “Uthlubul ilma walau bisshin” tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri China. Semangat itulah yang sesungguhnya telah lebih dulu hidup di Muaro Jambi jauh sebelum Islam tiba di tanah Jambi. Para pelajar dari berbagai bangsa dan keyakinan datang, duduk bersama, dan menimba ilmu tanpa sekat.

Tradisi thalabul ilmi dalam Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bukan hak istimewa segelintir orang. Maka mewarisi semangat Muaro Jambi bukan berarti kita merayakan keyakinan leluhur yang berbeda, melainkan kita menghormati jejak panjang manusia yang percaya bahwa ilmu adalah cahaya, dari zaman ke zaman, dari bangsa ke bangsa (ainun afifah, 2025).

Jauh sebelum kata “universitas” dikenal di Nusantara, Muaro Jambi telah lebih dulu menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan mengalir bebas tanpa sekat para pelajar dari India, Tiongkok, hingga Tibet datang bukan karena kesamaan agama, melainkan karena satu keyakinan yang lebih mendasar: bahwa ilmu adalah hak semua manusia.

Di sinilah diajarkan Panca Widya, lima cabang keilmuan yang mencakup tata bahasa, pengobatan, logika, seni, hingga pengelolaan batin sebuah tradisi intelektual yang universal, terbuka, dan melampaui batas bangsa maupun keyakinan.

Menariknya, semangat itulah yang kemudian dibawa Islam dalam tradisi thalabul ilmi Uthlubul ilma walau bisshin, tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri China negeri yang sama dari mana I-Tsing berasal, biksu yang pernah singgah di Muaro Jambi dan kagum dengan tradisi keilmuannya.

Islam tidak datang untuk menghapus jejak peradaban yang ada, melainkan meneruskan dan menyempurnakannya sehingga mewarisi semangat Muaro Jambi bukan berarti merayakan keyakinan yang berbeda, melainkan mengenali bahwa nenek moyang kita pernah hidup dalam peradaban yang percaya ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak memilih kepada siapa ia bersinar.

Menunggu Pewaris

Hari ini, kawasan yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan Asia Tenggara itu sebagian besar masih tertidur. Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke, namun baru mulai mendapatkan perhatian serius pada tahun 1975.

Dari 110 candi yang teridentifikasi, hanya sebagian kecil yang telah dipugar sisanya masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum tersentuh, bersama parit-parit kuno dan kolam penampungan air yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu (satrio pamungkas & Ningsih, n.d.).

Tantangannya tidak berhenti di sana. Meskipun telah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2009, kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari eksploitasi industri sawit dan batubara di sekitar kompleks, ditambah dampak negatif pariwisata yang belum terkelola dengan baik.

Yang lebih menyayat adalah kenyataan bahwa minimnya kesadaran masyarakat terutama generasi muda Jambi sendiri menjadi salah satu hambatan terbesar pelestarian situs ini (Ilmiah & Batanghari, 2019).

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek telah menyoroti pentingnya revitalisasi kawasan ini melalui program Merdeka Belajar, dengan rencana pembangunan Kampus Merdeka di atas lahan seluas 30 hektar dirancang sebagai pusat riset, museum, galeri, laboratorium, dan fasilitas pembelajaran yang diharapkan menghidupkan kembali semangat pendidikan yang telah ada sejak abad ke-8 sebuah langkah yang terasa seperti upaya memanggil kembali roh lama yang sudah terlalu lama tidur.

Namun kebijakan saja tidak cukup. Kajian penerapan konsep restorasi pada kawasan percandian muaro jambi menegaskan bahwa pelestarian situs ini hanya akan berhasil jika melibatkan partisipasi aktif masyarakat bukan sekadar pengunjung, melainkan penjaga dan masyarakat yang paling dekat dengan situs ini, yang paling berkepentingan menjaganya, adalah generasi muda Jambi itu sendiri. Muaro Jambi tidak butuh pengakuan dari luar untuk membuktikan kebesarannya.

Bata bata merah itu sudah berdiri lebih dari seribu tahun jauh melampaui sertifikat mana pun. Yang ia butuhkan hanyalah kita: anak-anak zaman yang mau meluangkan waktu untuk datang, duduk sebentar di antara reruntuhan itu, dan mendengarkan. Sebab di sana, dalam diam yang panjang, sejarah masih berbicara (Maherty, 2023).

Muaro Jambi tidak membutuhkan tepuk tangan dari luar untuk membuktikan kebesarannya. Bata-bata merah itu sudah berdiri lebih dari seribu tahun jauh melampaui pengakuan mana pun. Yang ia butuhkan hanyalah kita: anak-anak zaman yang mau meluangkan waktu untuk datang, duduk sebentar di antara reruntuhan itu, dan mendengarkan. Sebab di sana, dalam diam yang panjang, sejarah masih berbicara.

Ada yang aneh ketika sebuah bangsa lebih hafal nama universitas di luar negeri dari pada nama situs ilmu pengetahuan di tanahnya sendiri.

Muaro Jambi bukan sekadar reruntuhan. Ia adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya dan siapa kita seharusnya. Seribu tahun yang lalu, nenek moyang kita mengajari dunia.

Hari ini, kita bahkan belum selesai mengajari diri sendiri untuk menoleh ke belakang. Bata-bata merah itu tidak kemana-mana. Mereka masih di sana, di tepi Sungai Batanghari, menunggu, menanti, dengan kelapangan sanubari. [Hafsa]