Tersungkurnya Sang Jenderal Besar di Tangan Santri Rais Akbar
Kisah seorang pejuang sekaligus santri yang mengabdi kepada kiai dan negeri
Dengung sisa-sisa suara megafon masih terdengar.
Dari corong itu baru saja tersiar berita kalau Belanda akan menyerang dan menduduki kembali republik yang usianya belum sampai menginjak usia balita.
"Belanda bersama sekutu akan kembali datang menggempur dan menyerang Bumi Pertiwi kita ini!", demikian kabar yang disampaikan.
Rupa-rupanya kabar yang menyulut kemarahan di dada setiap rakyat itu disiarkan seantero negeri. Bak kecumik penyihir agung, sekejap, berita itu menjadi topik obrolan semua kalangan: pemimpin negara, perkempulan kaum muda, organisasi pelajar, organisasi-organisasi masyarakat, serikat-serikat dagang, para kaum buruh, tukang-tukang becak, sampai kalangan santri.
Termasuk Harun.
Harun adalah seorang remaja yang juga seorang santri Tebuireng asuhan Hadratussyaikh Kiai Hsayim Asy`ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama.
Sebagai seorang santri yang selalu bergumul dengan kitab-kitab klasik tradisi para ulama dan senantiasa mendengar petuah-petuah para kiai, selepas mendengar kabar itu, Harun lantas teringat akan aforisme Hadratussyaikh tentang cinta tanah air: 'Hubbul wathon minal iman' yang berarti Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.
Di usianya yang terbilang masih sangat hijau, tentu gejolak kemarahan dalam diri Harun tak lagi bisa dibendung untuk sesegera mungkin dapat ikut berkontribusi berhadap-hadapan melawan para Belanda dan sekutu. Namun satu hal yang ia pegang: nasihat kiai untuk menunggu arahan lanjutan.
Selepas mengaji di kediaman kiai, Harun mendapatkan informasi dari seorang sahabatnya terkait rencana kedatangan kembali Belanda.
"Run, kau sudah tahu dimana lokasi persisnya para penjajah itu akan tiba?", tanya Sadik sembari terus berjalan kembali ke arah kobong.
"Memangnya kau sudah tahu dimana lokasinya?", Harun menjawabnya dengan pertanyaan lagi.
"Surabaya, Run". Harun terkejut mendengar jawaban karibnya, sampai-sampai ia merasa perlu menghentikan langkahnya.
"Kau habis mencuri dengar lagi?", selidik Harun sambil menatap karibnya itu.
"Ayolah, sambil terus berjalan saja", Sadik merasa senewen. "Aku tidak mencuri dengar, tapi momennya memang kebetulan pas sekali". terusnya.
Sadik merupakan seorang santri yang jika waktu pagi sampai menjelang maghrib bertugas di ndalem (baca: kediaman) kiai. Tugasnya sederhana, misalnya membersihkan rumah kiai, sampai menyuguhkan jamuan kepada tetamu yang sowan kepada kiai. Di kalangan pesantren hal ini lazim disebut sebagai "ngabdi".
"Siang tadi kiai kedatangan seorang tamu. Aku tak kenal ia siapa. Tubuhnya kurus, matanya menyalang, garis wajahnya memberikan kesan ketegasan, jidatnya sedikit lebar, dan bekumis tipis. Ia berseragamkan tentara rakyat serta bertopikan garnisun", jelas Sadik sambil berusaha mengingat kuat-kuat orang yang tadi siang dilihatnya.
"Oh, ya? Jangan-jangan ia seorang yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan di kalangan para pejuang itu. Lalu?" kejar Harun.
"Ia juga bilang kalau pasukan sekutu akan dipimpin langsung oleh seorang jenderal Inggris yang berpengalaman dalam perang, prajurit pilih tanding di perang dunia kesatu dan kedua, serta disegani di Perang Asia dan Pasifik, serta sangat ditakuti di kawasan India dan Afrika".
"Siapa nama jenderal itu?"
"Aku tak ingat persis namanya, Run, tapi agaknya kalau aku tak salah jenderal itu bernama Malibi? Mulibi? Ah, entahlah, aku tak ingat pasti", Sadik tampak kesulitan mengigat-ingat nama si jenderal itu.
Brigadir jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby atau yang biasanya disebut WS Mallaby, adalah seorang Komandan Brigade Infanteri India ke-49. Ia seorang Inggris yang oleh pihak Belanda dimanfaatkan untuk menyusup masuk dan mencoba menegakkan kembali kekuasaan kolonialnya di indonesia yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945.
"Mallaby", gumam Harun lirih.
Pada minggu kedua bulan Oktober, setelah sebelumnya mendapatkan restu dari Sang Kiai untuk turut serta tergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, momen yang dinantikan Harun pun tiba.
Pasukan Belanda yang tergabung dalam NICA yang dibonceng tentara sekutu berlabuh di Tanjung Perak, Surabaya dalam misi membebaskan tawanan perang Eropa dan melucuti senjata dan sisa-sisa tentara Jepang yang masih ada di Indonesia.
Alih-alih menjalankan misi sesuai agendanya, pasukan Inggris malah berharap sambil menyelam minum air. Mereka dengan kekuatan penuh menyerang, melecehkan, bahkan menindas rakyat. Lebih dari itu, mereka memberikan ultimatum kepada para pejuang dan rakyat Indonesia untuk tunduk dan menyerahkan senjata-senjata yang ada tanpa syarat. Tindakan tersebut semakin menyulut kemarahan rakyat dari seluruh kalangan.
Harun sendiri sudah tergabung ke tentara Fi Sabilillah, Laskar tentara rakyat dan mendapat tugas di garis depan, tepatnya di Jembatan Merah, di depan Hotel Yamamoto (sekarang Hotel Majapahit), Surabaya.
Peristiwa demi peristiwa berlangsung tepat pada 22 Oktober 1945: perang pecah, kerusuhan terjadi, rakyat berbondong-bondong bak tak takut mati melawan dengan segenap kekuatan menggempur pihak Belanda dan sekutu serta berhasil merobek warna biru bendera Belanda sehingga tersisa warna merah putih saja.
Di sisi lain, Jenderal Mallaby bergerak mendekat dari dalam mobilnya, bermaksud memberikan komando langsung kepada pasukannya.
Di sudut lain, yang hanya berjarak beberapa meter, Harun menyaksikannya. Kesempatan emas itu tak mau ia sia-siakan. Ia lantas berusaha mendekat mobil tersebut dengan mengendap-endap.
Setelah persis berada di samping mobil, tanpa pikir panjang, Harun melepaskan tembakan ke arah Jenderal Mallaby. Untuk memastikan lagi bahwa Sang Jenderal tidak selamat, Harun melemparkan granat ke dalam mobil dan lantas berlari menjauhinya.
Tetapi granat tak kunjung meledak. Harun bergumam sendiri di dalam hati, "kenapa granatnya tak kunjung meledak?"
Akhirnya Harun memutuskan untuk kembali lagi mendekati mobil. Sayang beribu sayang, granat pun lantas meledak justru saat Harun mendekati mobil.
Mobil hancur, Harun pun turut gugur. []
