Sketsa di Halaman Belakang
Satu garis yang melenceng tidak berarti sebuah gambar tidak bisa diperbaiki. Begitu pula dengan kegagalan dalam belajar. Bagi Lia, sebuah pensil dan penghapus menjadi pengingat bahwa sekolah adalah ruang untuk mencoba. Sebab sebagaimana pepatah mengatakan: lebih baik gagal di tempat pendidikan, ketimbang gagal di seluruh kehidupan.
Lia menatap layar Chromebook sekolahnya dengan lemas. Notifikasi hasil simulasi TKA (Tes Kemampuan Akademik) baru saja keluar, dan skornya benar-benar anjlok di bawah ekspektasi. Sebagai anak kelas 12 yang ambis dapat plot nilai bagus buat portofolio masa depannya, hasil itu langsung bikin mentalnya breakdown. Dia mulai overthinking, merasa tidak kompeten, dan berniat buat give up dari ujian utama nanti karena takut score-nya makin berantakan.
Melihat Lia yang duduk menyendiri sambil melamun di pojok kantin, Bu Sarah, guru BK yang terkenal paling chill dan mengerti murid, datang mendekat. Beliau tidak langsung menceramahi Lia tentang nilai mata pelajaran. Beliau justru meletakkan sebatang pensil kayu dan sebuah penghapus karet di atas meja.
"Lia, coba kamu bikin sketsa logo art bebas di kertas ini," pinta Bu Sarah santai.
Lia agak bingung, tapi dia mulai menarik garis. Karena pikirannya lagi kacau, garis pertamanya melenceng jauh dan kelihatan berantakan.
"Tuh kan Bu, gagal. Tanganku tremor, hasilnya malah jelek," ujar Lia frustrasi, siap-siap meremas kertasnya.
Bu Sarah menahan tangan Lia, lalu menggeser penghapus karet ke dekat jemari Lia.
"Lia, kamu tahu kenapa dari dulu anak sekolah disuruh pakai pensil sama penghapus dulu sebelum pakai pulpen?"
Lia menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.
"Karena masa sekolah itu adalah masa di mana kamu diberi ruang buat bikin kesalahan. Hidup kamu sekarang itu persis kayak pensil ini. Hasil simulasi TKA yang belum memuaskan itu cuma garis yang melenceng. Kertasnya belum robek, Lia. Kamu masih punya penghapus."
"Evaluasi belajar, bahas soal bareng teman, dan konseling sama Ibu, itu semua adalah penghapusmu. Tugasnya buat membersihkan bagian yang keliru biar kamu bisa bikin garis baru yang lebih pas. Yang salah itu kalau kamu langsung mutusin buat give up dan berhenti berusaha, cuma karena takut bikin garis yang salah lagi."
Bu Sarah tersenyum sambil menepuk pundak Lia, “hapus overthinking-mu, pelajari salahnya di mana, terus mulai gores lagi. Waktu ujian utamanya kan masih ada.
"Lia menatap penghapus di tangannya, lalu melihat sisa remahan karet di atas meja. Kata-kata Bu Sarah terasa menampar sekaligus memeluknya. Dia menyadari kalau gagal di latihan bukan berarti masa depannya langsung game over. Dengan napas yang lebih lega, Lia mengambil penghapus, membersihkan coretannya yang salah, dan mulai menggoreskan kembali pensilnya dengan lebih optimis.
