Al-Alam: Saksi Bisu Tonggak Keimanan di Masa Lampau
Di ujung pinggiran pesisir Jakarta, tepatnya di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, di antara deburan ombak pesisir dan hikayat masa lalu, berdiri dengan bersahaja Masjid Al-Alam Cilincing dan Al-Alam Marunda.
Konon, berdiri dari sebuah legenda yang hidup dalam tutur kata masyarakat, yang dibangun hanya dalam satu malam oleh para wali penyebar syari'at.
Dengan arsitektur yang menyimpan jejak sejarah kerajaan, kolonialisme dan perjuangan rakyat, padanan budaya Sunda, Jawa, Tiongkok dan Betawi, yang tak lekang oleh zaman.
Tiang-tiang kayu dan dinding tuanya menyimpan ribuan kisah tentang para salik, musafir, pelaut, perantau, dan ulama yang singgah menggantungkan rangkaian dalam bait-bait kidung-kidung suci dalam doa dan sujudnya.
Kedua Al-Alam ini menghadap langsung ke laut lepas, inilah penanda bahwa risalah keimanan pernah ditanam di bibir pantai pinggiran Jakarta, tumbuh kokoh menembus abad.
Kini, Al-Alam menjadi situs cagar budaya yang merangkul sunyinya gelombang, semoga tetap terawat dan terjaga risalah syari'at dan kelestarian tradisi budayanya, bukan sekedar menjadi situs saja.
Sebagaimana nasihat Allohumma yarham KH Agus Sunyoto, Ulama sekaligus Sejarawan Nasional, "Berbudaya optimal beragama maksimal", "menjalankan Syari'at agama dengan tetap menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang baik yang sudah ada"
Itulah ISLAM NUSANTARA untuk Indonesia Jaya.
